"The way to get started is to quit talking and begin doing" "I hope you enjoy reading in my blog"

Sabtu, 04 Februari 2012

Komunikasi Konteks Tinggi VS Konteks Rendah


Setiap orang secara pribadi punya gaya khas dalam berbicara, bukan hanya caranya  tetapi juga topic-topik yang dibicarakan. Kekhasan ini umumnya diwarisi seseorang dari budayanya. Edward T. Hall (1973) membedakan budaya kontek tinggi (high-context culture) dengan budaya kontek-rendah (low-context culture). Yang mempunyai beberapa perbedaan penting dalam cara penyadian pesannya. Budaya kontek-rendah ditandai dengan komunikasi konteks-rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Para budaya konteks-rendah mereka mengatakan maksud (they say what they mean) dan memksudkan apa  yang mereka katakana (they mean what they way). Bila mereka mengatakan “yes”, itu berarti mereka benar-benar menerima atau setuju. Contoh kalimat konteks-rendah adalah komunikasi (program) computer. Setiap pesan harus dispesifikasikan dengan kode-kode tertentu; kalau tidak, programnya tidak akan jalan. Sifat dari komunikasi konteks-rendah adalah cepat dan mudah berubah karena itu tidak menyatukan kelompok.

            Sedangkan budaya konteks-tinggi ditandai dengan komunikasi konteks-tinggi: kebanyakan pesan bersifat implicit tidak langsung  dan tidak terus terang. Pesan yang sebenarnya mungkin tersembunyi dalam perilaku nonverbal pembicara: intonasi suara, gerakan tangan, postur badan, ekspresi wajah, tatapan mata, atau bahkan konteks fisik (dandanan, penataan ruangan, benda-benda dan sebagainya). Pernyataan verbalnya bisa berbeda atau bertentangan dengan pesan nonverbal. Contoh komunikasi konteks-tinggi adalah komunikasi orang kembar dengan menggunakan kalimat pendek-pendek atau kalimat singkat. Sifat komunikasi konteks-tinggi adalah: tahan lama. Lamban berubah dan mengikat kelompok yang menggunakan. Berdasarkan sifatnya ini orang-orang berbudaya konteks-tinggi lebih menyadari proses penyarigan budaya daripada orang-orang berbudaya  konteks- rendah.

            Basil Bernstein menggunakan istilah “kode terbatas” (restricted codes) dan “kode terjemahan” (elaborated codes) merujuk pada komunikasi konteks-tinggi dan konteks-rendah. Menggunkan konteks-tinggi pembicaraan menggunakan sedikir alternative, tetapi kemungkinan polanya lebih besar; arti pesan di komunikasi konteks-tinggi lebih khusus. Sebaliknya, dalam komunikasi konteks rendah pembicara memilih pesan dari sejumlah alternative yang relative banyak. kemungkinan hasil pesan akan berkurang dan pengertian lebih universal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar